Sejarah Singkat Tentang Asal Muasal Qosidah Burdah Karya Syaikh Busiry
[1] Baju (jubah) kebesaran khalifah yang menjadi salah satu atribut khalifah. Dengan atribut burdah ini, seorang khalifah bias dibedakan dengan pejabat negara lainnya, teman-teman dan rakyatnya.
[2] Nama dari kasidah yang dipersembahkan kepada Rasulullah SAW yang digubah oleh Ka’ab bin Zuhair bin Abi Salma.
Pada mulanya, burdah (dalam pengertian jubah) ini adalah milik Nabi Muhammad ﷺ yang diberikan kepada Ka’ab bin Zuhair bin Abi Salma, seorang penyair terkenal Muhadramin (penyair dua zaman Jahiliyah dan Islam). Burdah yang telah menjadi milik keluarga Ka’ab tersebut akhirnya dibeli oleh Khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan seharga duapuluh ribu dirham, dan kemudian dibeli lagi. oleh Khalifah Abu Ja’far al-Manshur dari dinasti Abbasiyah dengan harga empat puluh ribu dirham. Oleh khalifah, burdah itu hanya dipakai pada setiap shalat id dan diteruskan secara turun temurun.
Riwayat pemberian burdah oleh Rasulullah ﷺ kepada Ka’ab bin Zuhair bermula dari Ka’ab yang menggubah syair yang senantiasa menjelek-jelekkan Nabi dan para sahabat. Karena merasa terancam jiwanya, ia lari bersembunyi untuk menghindari luapan amarah para sahabat. Ketika terjadi penaklukan Kota Makkah, saudara Ka’ab yang bernama Bujair bin Zuhair mengirm surat kepadanya, yang isinya antara lain anjuran agar Ka’ab pulang dan menghadap Rasulullah ﷺ, karena Rasulullah ﷺ tidak akan membunuh orang yang kembali (bertaubat). Setelah memahami isi surat itu, ia berniat pulang kembali ke rumahnya dan bertaubat.
Kemudian Ka’ab berangkat menuju Madinah. Melalui Abu Bakar Siddiq, di sana ia menyerahkan diri kepada Rasulullah ﷺ. Ka’ab memperoleh sambutan penghormatan dari Rasulullah ﷺ. Begitu besarnya rasa hormat yang diberikan kepada Ka’ab, sampai-sampai Rasulullah melepaskan burdahnya dan memberikannya kepada Ka’ab. kemudian Ka’ab menggubah qasidah yang terkenal dengan sebutan Banat Su’ad (Putri-putri Su’ad), yang terdiri atas 59 bait (puisi). Kasidah ini disebut pula dengan Qasidah Burdah. la ditulis dengan indahnya oleh kaligrafer Hasyim Muhammad al-Baghdadi di dalam kitab kaligrafi-nya, Qawaid al-Khat al-Arabi.
Di samping itu, ada sebab-sebab khusus dikarangnya Qasidah Burdah itu, yaitu ketika al-Bushiry menderita sakit lumpuh, sehingga ia tidak dapat bangun dari tempat tidurnya, maka dibuatnya syair-syair yang berisi pujian kepada Nabi, dengan maksud memohon syafa’afnya. Di dalam tidurnya, ia bermimpi berjumpa dengan Nabi Muhammad ﷺ. di mana Nabi ﷺ mengusap wajah al-Bushiry, kemudian Nabi ﷺ melepaskan jubahnya dan mengenakannya ke tubuh al-Bushiry, dan saat ia bangun dari, seketika itu juga ia sembuh dari penyakitnya.
Pendapat lain mengungkapkan bahwa Imam Bushairi terkena penyakit lumpuh yang tidak mempu menggerakkan tubuhnya, telah letih dan lelah berobat dengan berbagai macam obat dari para dokter dan ahli kesehatan, namun hasilnya tidak memiliki perobahan, maka beliau mencoba untuk membuat satu qasidah yang yang memohon dengan barkah memuji Rasulullah akan mendapatkan kesembuhan dari Allah, ketika setelah sampai pada kalimat فمبلغ العلم فيه أنه بشر kemudian beliau melihat RAsulullah didalam mimpinya sambil berkata : " Sumpurnakanlah bait sya`ir itu dengan kalimat : " وأنه خير خلق كلهم " kemudian Rasulullah saw menyapu tubuh Imam al-Bushairi sehingga tubuhnya menjadi sebuh dari kelumpuhan.
Berkata Imam Syeikh Hasan al-`Adawi : Ketika Imam al-Bushairi keluar dari rumahnya beliau berjumpa dengan seorang lelaki yang soleh, kemudian meminta agar beliau memperdengarkan qasidah burdahnya, Imam Bushairi merasai keheranan, sebab beliau belum pernah menceritakan segala kejadian yang dia alami kepada orang lain, ketika Imam Bushairi bertanya kepada lelaki tersebut bagaimana beliau mengetahui kejadian tersebut, lelaki tersebut menjawab bahwa beliau mendengar Imam al-bushairi melantunkan sya`irnya di hadapan Rasulullah.
Pemikiran-Pemikiran Imam Al-Bushiry dalam Qasidah Burdah dimulai dengan nasib, yaitu ungkapan rasa pilu atas dukacita yang dialami penyair dan orang yang dekat dengannya, yaitu tetangganya di Dzi Salam, Sudah menjadi kelaziman bagi para penyair Arab klasik dalam mengawali karya syairnya selalu merujuk pada tempat di mana ia memperoleh kenangan mendalam dalam hidupnya, khususnya kampung halamannya. Inilah nasib yang diungkapkan Bushiri pada awal bait.
Ide-ide Syaikh Imam Al-Bushiry yang penting dilanjutkan dengan untaian-untaian yang menggambarkan visi yang bertalian dengan ajaran-ajaran tentang pengendalian hawa nafsu. Menurut dia, nafsu itu bagaikan anak kecil, apabila diteruskan menetek, maka ia akan tetap saja suka menetek. Namun jika ia disapih, ia pun akan berhenti dan tidak suka menetek lagi.
Pandangan al-Bushiri tentang nafsu tersebut terdapat pada bait ke-18.
Dalam ajaran pengendalian hawa nafsu, al-Bushiri menganjurkan agar kehendak hawa nafsu dibuang jauh-jauh, jangan dimanjakan dan dipertuankan, karena nafsu itu sesat dan menyesatkan. Keadaan lapar dan kenyang, kedua-duanya dapat merusak, maka hendaknya dijaga secara seimbang. Ajakan dan bujukan nafsu dan setan hendaknya dilawan sekuat tenaga, jangan diperturutkan (bait 19-25).
Selanjutnya, ajaran Imam Al-Bushiry dalam Qasidah Burdahnya yang terpenting adalah pujian kepada Nabi Muhammad ﷺ. la menggambarkan betapa Nabi ﷺ diutus ke dunia untuk menjadi lampu yang menerangi dua alam : manusia dan Jin, pemimpin dua kaum : Arab dan bukan Arab. Beliau bagaikan permata yang tak ternilai, pribadi yang tertgosok oleh pengalaman kerohanian yang tinggi. Al-Bushiri melukiskan tentang sosok Nabi Muhammad ﷺseperti dalam bait 34-59
Pujian Imam Al-Bushiry pada Nabi ﷺ tidak terbatas pada sifat dan kualitas pribadi, tetapi mengungkapkan kelebihan Nabi ﷺ yang paling utama, yaitu mukjizat paling besar dalam bentuk Al Quran, mukjizat yang abadi. Al Quran adalah kitab yang tidak mengandung keraguan, pun tidak lapuk oleh perubahan zaman, apalagi ditafsirkan dan dipahami secara arif dengan berbekal pengetahuan dan makrifat.
Hikmah dan kandungan Al Quran memiliki relevansi yang abadi sepanjang masa dan selalu memiliki konteks yang luas dengan peristiwa-peristiwa sejarah yang bersifat temporal. Kitab Al Quran solamanya hidup dalam ingatan dan jiwa umat Islam.
Selain Qasidah Burdah, Imam Al-Bushiri juga menulis beberapa qasidah lain di antaranya Qashidah Al-Mudhariyah dan Al-Qashldah, Al-Hamziyah. Sisi lain dari profil Imam Al-Bushiri ditandai oleh kehidupannya yang sufistik, tercermin dari kezuhudannya, tekun beribadah, tidak menyukai kemewahan dan kemegahan duniawi.
Di kalangan para sufi, ia termasuk dalam deretan sufi-sufi besar. Sayyid Mahmud Faidh al-Manufi menulis di dalam bukunya, Jamharat al-Aulia. bahwa al-Bushiri tetap konsisten dalam hidupnya sebagai seorang sufi sampai akhir hayatnya. Makamnya yang terletak di Iskandaria, Mesir, sampai sekarang masih dijadikan tempat ziarah. Makam itu berdampingan dengan makam gurunya, Abu Abbas al-Mursi.
Posting Komentar
image quote pre code